(tentang risol, konten, dan dunia baking yang ternyata luas sekali)
Semalam aku seperti duduk berhadapan dengan diriku sendiri.
Bukan versi yang ramai, bukan yang penuh ambisi, tapi versi yang diam, jujur, dan akhirnya berani mengakui banyak hal.
Aku menyadari satu pola yang selama ini terus berulang:
aku sering terburu-buru ingin sampai. Ingin cepat berhasil. Ingin cepat “jadi”. Ingin cepat menemukan bentuk hidup yang mapan dan terasa aman.
Dan karena terlalu ingin cepat, aku jadi:
-
mudah berubah arah
-
kurang sabar
-
tidak konsisten
-
dan sering memaksakan diri
Padahal kalau aku mau jujur melihat ke belakang, semuanya tidak pernah benar-benar diam. Semua tetap tumbuh, hanya saja tidak secepat yang aku bayangkan di kepalaku.
Aku memulai dunia baking dari sesuatu yang sangat sederhana: iseng.
Iseng belajar bikin kue.
Iseng jualan kecil-kecilan.
Iseng mencoba produk ini dan itu.
Dulu aku belum tahu mana produk yang tepat. Aku jualan musiman. Kadang ikut tren, kadang hanya karena “lagi pengen”. Aku tidak punya sistem yang rapi, tidak punya arah yang jelas, dan jujur saja—aku juga belum benar-benar mengenal diriku sendiri.
Tapi dari semua keisengan itu, ada satu hal yang penting:
aku tidak berhenti.
Dan ternyata, bertahan itu adalah bentuk kecerdasan yang sering tidak disadari.
Tahun lalu adalah tahun aku banyak belajar dengan cara yang tidak enak.
Aku belajar bahwa semangat besar tanpa ritme hanya akan berujung capek. Aku belajar bahwa ambisi tanpa sistem hanya akan membuat kepala penuh. Aku belajar bahwa terlalu keras ke diri sendiri tidak membuatku lebih cepat, justru membuatku lebih sering ingin menyerah.
Sampai akhirnya aku berhenti sejenak.
Aku mulai bertanya ke diri sendiri, bukan dengan nada menghakimi, tapi dengan rasa ingin tahu:
“Sebetulnya aku sedang membangun apa?”
Jawabannya tidak langsung besar. Tidak megah. Tidak muluk-muluk.
Jawabannya sederhana tapi menenangkan: aku sedang membangun pondasi.
Sekarang aku mulai fokus ke risol.
Risol yang mungkin terlihat kecil di mata orang lain.
Risol yang pendapatannya belum besar.
Risol yang sistemnya masih terus aku benahi.
Tapi risol ini nyata.
Ia punya pembeli.
Ia punya proses.
Ia punya pengulangan.
Ia punya rasa percaya.
Dan dari risol ini, aku belajar sesuatu yang penting:
bisnis yang hidup itu bukan yang paling ramai, tapi yang dirawat dengan sadar.
Di tengah proses mengembangkan risol, aku bertemu dan melihat orang-orang lain di dunia baking. Ada yang fokus di konten. Ada yang menjual pengetahuan lewat ebook. Ada yang menggabungkan baking dengan digital marketing. Ada yang membangun personal brand sambil tetap memproduksi.
Awalnya aku kaget.
Bukan karena iri, tapi karena pikiranku seperti dibuka.
Ternyata dunia baking luas banget sekarang.
Baking bukan cuma soal:
-
produksi
-
jualan
-
dapur
Baking bisa menjadi:
-
konten
-
cerita
-
edukasi
-
sistem
-
bahkan passive income
Dan yang menarik, aku tidak langsung ingin ikut-ikutan.
Aku justru merasa lebih tenang.
Seolah aku berkata ke diri sendiri,
“oh… ternyata jalannya banyak ya. Aku tidak harus terburu-buru memilih semuanya sekarang.”
Aku juga akhirnya jujur mengakui satu hal tentang diriku:
aku bukan orang yang pandai bicara. Aku bukan tipe yang nyaman tampil heboh atau berbicara panjang di depan kamera. Aku lebih suka menulis. Menjelaskan pelan. Menyusun alur. Membantu orang memahami sesuatu dengan tenang.
Selama ini aku sempat mengira itu kekurangan.
Di dunia yang terlihat dikuasai oleh orang-orang yang cepat dan vokal, aku merasa sedikit tertinggal.
Tapi semalam aku sadar:
itu bukan kekurangan. Itu karakter.
Dan karakter itu juga punya tempatnya sendiri.
Aku teringat pengalamanku dulu, saat pernah belajar dan bertumbuh bersama orang lain. Saat aku bisa mendampingi, menjelaskan, dan menjadi bagian dari proses belajar. Dari situ aku sadar, mengajar sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagiku—hanya saja, belum waktunya sekarang.
Peluangnya ada.
Benihnya ada.
Tapi aku tidak perlu memaksakannya tumbuh hari ini.
Yang membuatku paling lega adalah saat aku menyadari:
tujuanku selama ini mungkin terlihat sering berubah, tapi sebenarnya tidak pernah berubah.
Dulu aku ingin sekadar bisa jualan.
Lalu ingin punya bisnis yang stabil.
Sekarang aku berpikir tentang pabrik risol.
Di waktu yang sama, aku juga memikirkan passive income.
Aku ingin suatu hari bisa bekerja karena suka, bukan karena terpaksa.
Kelihatannya seperti banyak tujuan yang berbeda.
Padahal intinya sama.
Aku ingin hidup mandiri.
Aku ingin punya kendali atas waktuku.
Aku ingin bekerja dengan rasa senang, bukan tekanan.
Yang berubah bukan tujuannya, tapi cara aku membayangkannya.
Dulu aku berpikir semuanya harus cepat.
Sekarang aku mulai mengerti bahwa yang penting itu tepat waktu, bukan cepat.
Aku juga belajar untuk tidak merusak sesuatu yang sedang tumbuh hanya karena aku ingin segera panen. Bisnis kecil yang sehat sering kali terlihat sunyi dari luar, tapi pelan-pelan menguat dari dalam.
Sekarang fokusku sederhana:
-
mengembangkan risol dengan serius
-
belajar baking dengan lebih rapi
-
pelan-pelan memahami sosial media
-
mendokumentasikan proses tanpa beban harus selalu “menjual”
Konten bukan lagi tuntutan, tapi catatan perjalanan.
Belajar bukan lagi perlombaan, tapi bekal.
Aku tidak menutup diri dari kemungkinan masa depan.
Aku tahu suatu hari nanti, mungkin aku akan menulis ebook.
Mungkin aku akan mengajar.
Mungkin aku akan membangun sistem yang berjalan tanpa aku harus selalu hadir.
Tapi hari ini, aku memilih untuk hadir penuh di tempatku berdiri sekarang.
Semalam aku akhirnya paham:
aku tidak tertinggal.
aku tidak gagal.
aku tidak salah arah.
Aku hanya sedang belajar melihat peta hidupku dengan lebih luas.
Dan di peta itu, dunia baking bukan sekadar satu jalan lurus, tapi sebuah ruang besar dengan banyak pintu. Aku tidak harus membuka semuanya sekaligus. Aku hanya perlu memastikan satu pintu yang sedang aku buka ini benar-benar kokoh.
Pelan-pelan saja.
Aku sedang bertumbuh.
Dan itu cukup.

Tidak ada komentar