Part 1
Aku kira setelah patah hati beberapa tahun lalu, aku tidak akan bisa menulis lagi.
Semua terasa hambar setelah itu. Kata-kata yang dulu mudah keluar mendadak terasa asing. Aku masih tertawa, masih bercanda, masih terlihat seperti diriku yang biasa. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang perlahan mati diam-diam di dalam diriku.
Imajinasi.
Aku berhenti membayangkan hal-hal manis. Berhenti percaya pada cerita hangat. Bahkan berhenti percaya kalau aku bisa benar-benar nyaman menjadi diriku sendiri.
Sampai suatu hari aku bertemu seorang lelaki aneh.
Dia pendiam, dingin. irit bicara. Selalu pakai hoodie hitam. Ekspresinya datar seperti kulkas dua pintu.
Dan entah kenapa, lelaki seperti itu justru berhasil membuat hidupku berisik lagi.
“Kenapa sih mukamu datar terus?” tanyaku suatu malam.
Dia membalas singkat.
“Memangnya harus senyum terus?”
Menyebalkan.
Aku memutar mata sambil tertawa sendiri di depan layar ponsel.
Dia memang seperti itu. Balas chat seadanya, sering bikin aku menebak-nebak, tapi anehnya aku selalu ingin kembali mengobrol dengannya.
Kadang aku heran kenapa bisa seseorang yang sangat minim ekspresi justru membuat kepalaku ramai.
Mungkin karena diam-diam dia memperhatikan.
Aku baru sadar itu setelah beberapa waktu.
Dia selalu begitu, bersemangat saat aku berhasil mengungah hasil eksperimenku. Selalu menjadi orang pertama yang akan minta jatah preman.
“Mana punyaku?”
Itu pesan yang hampir selalu muncul setiap aku selesai membuat sesuatu.
Awalnya aku pikir dia hanya bercanda. Tapi ternyata dia memang suka semua hal tentang roti.
“Makanan favoritku roti-rotian,” katanya waktu itu.
Dan sejak hari itu, tanpa sadar aku mulai belajar membuat lebih banyak jenis roti.
Bukan karena disuruh.
Aku hanya… senang melihat reaksinya.
Walaupun reaksinya juga hemat.
“Lumayan.”
“Enak.”
“Atasnya kurang banyak.”
“Bikin lagi.”
Aku sampai kesal sendiri membaca chatnya.
“Ini orang kalau dipuji sedikit kenapa sih?” gerutuku sambil tertawa.
Tapi tetap saja, setiap mencoba resep baru, dia selalu jadi orang pertama yang terlintas di kepalaku.
Suatu hari aku membuat banana bread untuk pertama kalinya.
Aku masih ingat malam itu. Dapur berantakan, tepung di mana-mana, dan aku berkali-kali gagal membuat teksturnya pas.
Saat akhirnya jadi, aku memotretnya dengan bangga lalu mengirimkan fotonya ke dia.
Balasannya lama.
Sangat lama.
Aku bahkan hampir tidur waktu notifikasi itu muncul.
“Mau.”
Cuma satu kata.
Aku tertawa sendiri.
Besoknya dia datang mengambilnya dengan hoodie hitam andalannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.
“Kok mukamu kayak orang dipaksa hidup?” ejekku.
Dia hanya mendengus kecil.
Aku menyerahkan kotak roti itu sambil menahan senyum.
“Kalau gak enak jangan dimakan.”
Dia membuka kotaknya sedikit, mencium aromanya, lalu menatapku singkat.
“Kalau gak enak gak mungkin aku minta lagi.”
Deg.
Sial.
Mungkin dia memang begitu, tidak banyak kata. Tapi tiba-tiba mengeluarkan kalimat kecil yang tinggal lama di kepala.
Beberapa hari kemudian dia benar-benar memesan lagi.
“Masih ada banana bread?"
“Loh, katanya kemarin biasa aja?”
“Ya terus kenapa habis?”
Aku tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Lucu sekali. Dia itu ternyata diam-diam suka hal-hal manis.
Dan tanpa sadar, aku juga mulai menyukai dunia kecil yang tercipta di antara kami.
Tentang dia yang selalu meminta jatah preman.
Tentang aku yang pura-pura kesal padahal diam-diam senang dibutuhkan.
Tentang percakapan receh jam malam.
Tentang dia yang jarang bicara tapi selalu hadir saat aku mencoba sesuatu yang baru
Tentang aku yang perlahan mulai kembali menjadi diriku sendiri.
Karena sebelum mengenalnya, aku terlalu lama hidup di dalam kepalaku sendiri.
Aku terlalu banyak menganalisis manusia sampai lupa bagaimana cara merasakan.
Aku terlalu sering bercanda untuk menyembunyikan hati.
Dan yang paling parah, aku terlalu takut menjadi perempuan yang lembut.
Aku takut terlihat terlalu dalam.
Terlalu peduli.
Terlalu mudah terluka.
Tapi anehnya, di dekat dia aku justru mulai kembali ke diriku yang dulu.
Aku kembali menulis.
Kembali baking.
Kembali membayangkan cerita-cerita kecil.
Kembali menjadi perempuan yang diam-diam suka bunga, buku, dan aroma roti hangat.
Dia bahkan mungkin tidak sadar sudah membawa pengaruh sebesar itu dalam hidupku.
Karena dari luar, hubungan kami terlihat biasa saja.
Bahkan sangat abu-abu.
Bukan juga dua orang yang saling mengungkapkan perasaan dengan jelas.
Kadang dia menghilang lama.
Kadang aku gengsi duluan.
Kadang kami sama-sama defensif.
Dan semakin lama aku sadar, mungkin aku dan dia memang dua orang dengan ritme hidup yang berbeda.
Dia hidup sederhana, tenang, dan tertutup.
Sedangkan aku terlalu penuh warna, terlalu ekspresif, terlalu banyak rasa.
Hubungan seperti ini melelahkan kalau dipaksa terus berjalan tanpa arah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi menyangkal itu.
Aku mulai memahami bahwa cinta dewasa bukan cuma tentang saling suka.
Tapi juga tentang:
siapa yang bisa berkomunikasi dengan jelas,
siapa yang siap bertumbuh bersama,
dan siapa yang benar-benar tahu bagaimana menjaga satu sama lain.
Aku menyadari dia mungkin belum siap untuk itu.
Dan anehnya… setelah menyadarinya, aku justru merasa tenang.
Tidak ada lagi overthinking berlebihan.
Tidak ada lagi keinginan memaksa semuanya menjadi jelas.
Aku hanya mulai menerima bahwa mungkin ada manusia yang hadir bukan untuk tinggal selamanya.
Kadang mereka datang hanya untuk membuka pintu dalam diri kita yang lama terkunci.
Dan dia berhasil melakukannya padaku.
Dia membuatku kembali hidup.
Membuatku kembali menulis.
Membuatku kembali percaya bahwa aku masih punya hati yang hangat.
Malam ini aku duduk sendiri di dapur kecilku sambil menghias kue stroberi.
Playlist acoustic pelan terdengar dari speaker kecil di sudut ruangan.
Tanganku sibuk membentuk buttercream bunga-bunga kecil sementara pikiranku melayang ke banyak hal.
Tentang hoodie hitam.
Tentang banana bread.
Tentang jatah preman.
Tentang dia yang selalu terlihat seperti tidak peduli apa-apa.
Aku tersenyum kecil.
Lucu ya.
Dulu aku pikir patah hati telah mengambil seluruh imajinasiku.
Ternyata aku hanya butuh seseorang untuk menghidupkannya kembali.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Satu pesan masuk.
“Ada roti baru?”
Aku tertawa keras sampai harus menutup wajah dengan tangan.
Dasar.
#sliceoflife #cerpen #story
.jpeg)
Tidak ada komentar