Belajar Membuat Salt Bread untuk Pertama Kalinya: Tentang Roti, Mimpi Kecil, dan Perasaan yang Tumbuh Pelan-Pelan

 Ada banyak hal dalam hidup yang awalnya terlihat sederhana, sampai akhirnya kita mencoba melakukannya sendiri.

Sama seperti saat pertama kali aku melihat Salt Bread. Bentuknya kecil, tampilannya minimalis, bahkan terlihat seperti roti biasa yang bisa ditemui di banyak toko bakery. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa roti ini punya daya tarik yang berbeda. Ada sesuatu dari tampilannya yang tenang, hangat, dan sederhana—tapi justru membuatku penasaran.

Dan rasa penasaran itu akhirnya membawaku ke sebuah kelas baking di Joyfullbaking Studio.

Kelas dimulai pukul 13.15 siang hingga hampir malam, sekitar pukul 19.30 WITA. Awalnya aku pikir akan terasa melelahkan karena durasinya cukup panjang, tapi ternyata waktu berjalan cepat sekali. Mungkin karena sejak awal suasananya terasa hangat dan menyenangkan.

Aku datang dengan perasaan campur aduk. Antara excited karena akhirnya bisa belajar membuat salt bread secara langsung, dan sedikit gugup karena aku bukan seseorang yang benar-benar punya basic profesional di dunia baking. Aku hanya seseorang yang suka belajar hal-hal baru, terutama hal yang bisa dibuat dengan tangan sendiri dan diberikan kepada orang lain.

Untungnya, kelas itu benar-benar beginner friendly.

Tidak ada suasana yang membuat orang takut salah. Tidak ada tekanan harus langsung bisa. Semuanya terasa santai, perlahan, dan penuh proses. Dari situ aku sadar kalau belajar baking ternyata bukan tentang siapa yang paling cepat bisa, tapi siapa yang mau sabar menjalani setiap tahapnya.

Dan ternyata, membuat salt bread memang tidak semudah yang terlihat.

Dari luar, roti ini tampak sederhana. Tapi setelah melihat langsung proses pembuatannya, aku baru mengerti bahwa ada banyak detail kecil yang menentukan hasil akhirnya. Mulai dari tekstur adonan, cara menggulung, teknik fermentasi, sampai bagaimana butter di dalam roti bisa menciptakan tekstur khas pada bagian bawahnya.

Aku jadi paham kenapa banyak orang bilang baking itu bukan hanya soal resep, tapi juga soal rasa dan ketelitian.

Di tengah kelas itu, ada satu momen kecil yang justru paling membekas di kepalaku.

Aku melihat bahan Poolish tepat di depanku.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya bagian dari proses pembuatan roti. Tapi entah kenapa, saat melihatnya aku langsung diam beberapa detik. Rasanya seperti ada rasa penasaran lama yang tiba-tiba muncul lagi ke permukaan.

Karena sebenarnya, jauh di dalam hati kecilku, aku masih punya satu wishlist yang belum tercapai sampai hari ini: belajar membuat Sourdough Bread sendiri.

Aku pernah beberapa kali melihat video tentang sourdough. Tentang bagaimana starter-nya dirawat setiap hari, bagaimana proses fermentasinya membutuhkan kesabaran, dan bagaimana setiap roti punya karakter yang berbeda tergantung cara kita merawatnya.

Dan anehnya, aku selalu merasa sourdough itu bukan sekadar roti.

Ada sesuatu yang terasa hidup di dalam prosesnya.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi semakin aku belajar tentang dunia baking, semakin aku merasa bahwa makanan bukan hanya soal rasa kenyang. Ada perhatian, kasih sayang, dan niat yang ikut tercampur di dalamnya.

Mungkin itu juga alasan kenapa aku tiba-tiba memikirkan banyak hal saat melihat poolish hari itu.

Aku membayangkan suatu hari nanti bisa membuat sourdough sendiri di rumah. Membuat roti hangat untuk orang-orang terdekatku. Untuk keluarga kecilku nanti, mungkin. Untuk teman-teman yang datang berkunjung. Atau bahkan hanya untuk seseorang yang sedang lelah dan butuh merasa “dipulangkan” lewat makanan hangat.

Kedengarannya sederhana, ya?

Tapi semakin dewasa, aku mulai sadar bahwa bentuk kasih sayang ternyata tidak selalu harus besar atau mewah. Kadang sesederhana mengingat makanan favorit seseorang, membuatkan minuman hangat, atau menyediakan roti yang dibuat dengan tangan sendiri.

Dan lucunya, semua pemikiran itu datang di saat hidupku sendiri sedang cukup berantakan secara emosional.

Aku bahkan sempat tertawa sendiri memikirkannya.

Di satu sisi aku sedang menulis tentang mimpi kecil, keluarga hangat, dan roti sehat untuk orang-orang tersayang. 

Kontras sekali rasanya.

Seolah hidupku sedang berjalan dalam dua dunia berbeda secara bersamaan.

Di story Instagram, aku terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati “healing baking era”—belajar membuat roti, bertemu teman baru, menulis tentang mimpi kecil dan makanan hangat.

Padahal di dunia nyata, aku juga masih manusia biasa yang overthinking sa.

Aku rasa itu yang menarik dari bertumbuh menjadi dewasa.

Kita tetap bisa memiliki mimpi yang lembut di tengah keadaan hati yang belum sepenuhnya rapi.

Dan mungkin, justru karena hidup tidak selalu berjalan sempurna, kita jadi belajar menemukan kebahagiaan kecil dari hal-hal sederhana.

Seperti aroma roti yang baru keluar dari oven.

Seperti tawa kecil bersama orang asing yang baru dikenal di kelas baking.

Seperti rasa puas saat melihat adonan yang awalnya berantakan akhirnya berubah menjadi roti cantik.

Atau seperti perasaan hangat saat menyadari bahwa ternyata kita masih punya mimpi untuk masa depan.

Kelas baking itu juga mengajarkanku satu hal penting: semua hal butuh proses.

Adonan tidak bisa dipaksa mengembang lebih cepat.
Butter tidak bisa sembarang dimasukkan tanpa teknik.
Fermentasi tidak bisa terburu-buru.

Semua ada waktunya.

Dan anehnya, aku merasa hidup juga seperti itu.

Kadang kita terlalu ingin semuanya cepat jelas. Cepat berhasil. Cepat sembuh. Cepat dipahami orang lain. Padahal beberapa hal memang hanya bisa tumbuh perlahan.

Termasuk perasaan.
Termasuk mimpi.
Termasuk diri kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya aku begitu menikmati kelas ini, lebih dari yang aku bayangkan sebelumnya.

Karena ternyata aku bukan cuma belajar membuat salt bread.

Aku juga sedang belajar memahami diriku sendiri.

Belajar bahwa tidak apa-apa jika hidup belum sepenuhnya stabil.
Tidak apa-apa jika masih sering bingung dengan perasaan sendiri.
Tidak apa-apa jika masih punya banyak wishlist kecil yang belum tercapai.

Selama kita masih punya keinginan untuk bertumbuh, mungkin semuanya akan menemukan jalannya pelan-pelan.

Dan siapa tahu, beberapa tahun dari sekarang, aku akan membaca tulisan ini lagi sambil tertawa kecil di dapur rumahku sendiri.

Mungkin sambil memberi makan starter sourdough pertamaku.
Mungkin sambil menunggu roti matang di oven.
Atau mungkin sambil mengingat versi diriku yang dulu—yang pertama kali jatuh cinta pada dunia baking hanya karena melihat sebuah salt bread sederhana.

Dan kalau hari itu benar-benar datang, aku harap aku masih menjadi seseorang yang tetap menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.

Karena pada akhirnya, mungkin memang itu inti dari semua ini.

Bukan sekadar tentang roti.

Tapi tentang rumah, rasa hangat, dan mimpi-mimpi kecil yang tumbuh diam-diam di dalam hati 🥐✨

Tidak ada komentar