Kusembut Apa Harusnya Kamu?

Entahlah. 

Ada begitu banyak hal yang tidak cukup berani untuk kuucapkan. Aku bahkan tidak pernah benar-benar pandai membicarakan perasaanku padamu. Terlalu banyak ketakutan dan rasa insecure di dalam diriku sendiri.

Awalnya kukira kita hanyalah teman berbagi cerita yang sangat kukagumi. Itu sebabnya aku selalu meminta pendapatmu tentang banyak hal. Aku kagum pada caramu berpikir, lalu perlahan menganggapmu sebagai sahabat. Cukup sampai di situ. Tidak pernah lebih, karena akupun tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan lawan jenis lebih dari seorang teman.

Aku tidak pernah benar-benar dekat dengan laki-laki untuk hubungan yang lebih dari sekadar sahabat.

Kukira semuanya berjalan biasa saja, sampai aku mulai bertanya-tanya sejak hari kita jogging bertiga. Tapi bahkan saat itu pun aku terus berusaha lari dari hatiku sendiri.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar melihatmu sebagai seseorang yang berbeda. Kau yang terlihat begitu berbakat itu ternyata hanyalah manusia biasa yang juga bisa lelah, juga bisa kesepian.

Maaf ya, selama ini aku terlalu dingin. Terlalu banyak pertimbangan. Tapi sebenarnya aku hanya memiliki banyak ketakutan yang bahkan sampai sekarang masih kupelajari cara menghadapinya.

Terima kasih, karena kehadiranmu membuatku perlahan kembali utuh.

Kau tahu? Sejak hari itu aku tidak lagi bisa menulis menggunakan hati. Sampai akhirnya, melalui semua proses ini, aku belajar memahami banyak hal dan menemukan kembali diriku sendiri.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kau akan membaca tulisan ini atau tidak. Anggap saja ini sebuah dongeng kecil yang kutulis diam-diam. Mungkin juga sekarang kau sudah menemukan seseorang yang lebih tepat, dan ternyata orang itu bukan aku.

Tidak apa-apa.

Aku tetap mendoakan semua hal baik untukmu.

Tidak ada yang salah darimu.

Barangkali memang ritme kita saja yang berbeda. Aku terlalu banyak berpikir untuk seseorang dengan cara komunikasi yang begitu santai. Sementara aku adalah orang yang mudah merasa tenang lewat hal-hal kecil; dikabari, ditemani, atau sekadar merasa diprioritaskan.

Mungkin tanpa sadar aku berharap lebih banyak kejelasan, sementara kau menjalani semuanya dengan lebih ringan.

Dan lucunya, kita sama-sama tidak benar-benar salah.

Sebenarnya aku tidak pernah benar-benar berani mengungkapkan isi hatiku. Aku selalu pandai menyembunyikannya di balik candaan, tulisan-tulisan absurd, dan sikap seolah semuanya baik-baik saja.

Tapi kali ini, kuizinkan diriku untuk jujur.

Kuizinkan diriku mengakui bahwa pernah ada seseorang yang diam-diam mengambil ruang begitu besar di hidupku. Seseorang yang membuatku belajar memahami banyak hal, tentang rasa, tentang kehilangan, tentang diriku sendiri. Kau berhasil masuk dalam dunia kecilku, tulisanku, baking, dan semua karya tanganku. 

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi lari dari perasaanku sendiri.

Tidak ada komentar